Sifat Makroskopis dan Mikroskopis Kayu Sowang (Xanthostemon novaguinensis Valeton) Asal Pegunungan Cycloop Papua
Keywords:
Kayu sowang, sifat makroskopis, sifat mikroskopis, sifat fisikaAbstract
Papua merupakan pulau terluas di Indonesia dan memiliki keanekaragaman hayati tumbuhan berkayu dengan total 3.962 jenis, 329 jenis di antaranya termasuk suku Myrtaceae. Sebagai anggota suku Myrtaceae, kayu sowang (Xanthostemon novaguinensis Valeton) tergolong jenis kurang dikenal dan pemanfaatannya masih terbatas. Penelitian ini ditujukan untuk mengumpulkan informasi sifat dasar kayu sowang meliputi ciri makroskopis, mikroskopis, dan sifat fisikanya. Metode yang digunakan yaitu observasi secara makroskopis terhadap ciri struktur, sifat fisik, dan sifat fisika kayu; dan observasi secara mikroskopis terhadap diameter pembuluh, diameter serat, dan panjang serat. Karakteristik anatomi kayu sowang yaitu memiliki lingkaran tahun tidak jelas dan sangat rapat, pembuluh pita tangensial dengan susunan tata baur dan penyebaran soliter, diameter pembuluh berukuran besar (0,32–0,45 mm) dan frekuensinya sangat jarang (0,33–1,05 sel per mm²). Parenkim bertipe aliform ketupat, jari-jari tidak terlihat secara makroskopis, permukaan kayu bertekstur halus, arah serat berpadu, dan tidak ditemukan saluran damar. Warna kayu teras cokelat kehitaman dan gubalnya cokelat muda. Kayu sowang tidak berbau, permukaannya mengkilap, kesan raba halus, sangat berat, dan sangat keras. Kadar air kayu sowang 13,90–17,62% pada kondisi jenuh buatan (perendaman 3 hari) dan hanya 7,75–12,22% pada kondisi kering udara. Berat jenis kayu bervariasi dari empulur ke kulit pada satu individu pohon 1,00–1,06 (kelas kuat I). Penyusutan tangensial 3,84–5,13%, penyusutan radial 3,49–5,06%, dengan rasio T/R 0,88–1,28, dan penyusutan longitudinal 0,05–0,2%. Pengembangan tangensial 1,32–2,18%, pengembangan radial 1,12–2,14%, dan pengembangan longitudinal 0,03–0,08%. Panjang serat dan diameter serat kayu sowang termasuk kategori sedang, masing-masing berukuran 0,94–1,07 mm dan 17,96–22,24 µm.
References
Aprianis, Y., & Rahmayanti, S. (2009). Dimensi Serat dan Nilai Turunannya dari Tujuh Jenis Kayu Asal Propinsi Jambi. Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 27(1), 11-20. DOI: https://doi.org/10.20886/jphh.2009.27.1.11-20
BPK Papua. (2022). Provinsi Papua. Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia Perwakilan Provinsi Papua.
URL: https://papua.bpk.go.id/provinsi-papua/
Camara-Leret, R, et al. (2020). New Guinea has the world’s richest island flora. Nature. 584(7822):579-583. DOI: https://doi.org/10.1038/s41586-020-2549-5
Damayanti, R., & Mandang, Y.I. (2007). Pedoman Identifikasi Kayu Kurang Dikenal. Pusat Penelitian Hasil Hutan: Bogor.
Dewi, A.P., & Tihurua, E.F. (2020). Potensi Pemanfaatan Tujuh Jenis Kayu Asal Kalimantan sebagai Pulp dan Kertas. Prosiding Seminar Nasional Biologi IP2B IV 2020_e ISSN, 2746 (7902), 191.
Dodo, S.P., & Kusuma, Y.W.C.K. (2021). Xanthostemon novaguineensis. The IUCN Red List of Threatened Species 2021: e. T169042502A169370903. DOI: https://dx.doi.org/10.2305/IUCN.UK.2021-3.RLTS.T169042502A169370903.en
Fajar, M.N., Arifin, H., Purwantoro, D.S., Maysyurah, A., & Al-Ghazali, A. (2023). Pengaruh Kadar Air Kayu terhadap Kuat Lentur Kayu di Kota Sorong–Papua Barat Daya. Teknika, 18(2), 105-113. DOI: https://doi.org/10.26623/teknika.v18i2.7828
Haygreen, J. G., Bowyer, J. L., & Hadikusumo, S. A. (1989). Hasil Hutan dan Ilmu Kayu: Suatu Pengantar.
Gadjah Mada University Press: Sleman.
Jamlean, V.M. (1999). Identifikasi dan Pemanfaatan Kayu Sowang (Xanthostemon spp.) pada Masyarakat Asli Sentani dan Masyarakat Pendatang di Kabupaten Dati II Jayapura. Skripsi. Universitas Cenderawasih, Manokwari.
Kasmujo. (2001). Identifikasi Kayu dan Sifat-sifat Kayu. Fakultas Kehutanan Universitas Gajah Mada: Yogyakarta.
Krisdianto, K. (2006). Anatomi dan Kualitas Serat Lima Jenis Kayu Kurang dikenal dari Lengkong, Sukabumi.
Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 24(3), 201-218.
Krisdianto, & Dewi, L. M. (2012). Jenis Kayu untuk Mebel. Pusat Penelitian dan Pengembangan Keteknikan Kehutanan dan Pengolahan Hasil Hutan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Kementerian Kehutanan: Bogor.
Mandang, YI. (1986). Anatomi dan Identifikasi Sepuluh Jenis Kayu dari Kalimantan Timur (Anatomy and identification of ten wood species from East Kalimantan). Jurnal Penelitian Hasil Hutan, 3(4), 34-46.
Martawijaya, A., Kartasujana, I., Kadir, K., & Prawira, S. (1989). Atlas kayu Indonesia: Jilid I. Pusat Penelitian dan Pengembangan Hasil Hutan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan: Bogor.
Martawijaya, A., Kartasujana, I., Kadir, K., & Prawira, S. (2005). Atlas kayu Indonesia (Jilid II). Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan, Departemen Kehutanan: Bogor.
Ngutra, R.N. (2011). Identifikasi dan Analisis Ekonomi Keanekaragaman Hayati Tumbuhan Sowang (Tumbuhan Endemik di Pegunungan Cycloops Kabupaten Jayapura Papua). Tesis. Institut Pertanian Bogor, Bogor.
Ross, R.J. (2010). Wood Handbook: Wood as an Engineering Material. Forest Products Laboratory: Madison, WI. DOI: https://doi.org/10.2737/FPL-GTR-190
Rowell, R. M. (2005). Handbook of Wood Chemistry and Wood Composites. CRC press: Boca Raton, FL. DOI: https://doi.org/10.1201/9780203492437
Wheeler, E. A., Baas, P., & Gasson, P. E. (1989). IAWA List of Microscopic Features for Hardwood Identification.
IAWA Bulletin, 10(3), 219–332. DOI: https://doi.org/10.1163/22941932-90000496
Widiati, K. Y., Dayadi, I., & Taruli, M. M. (2016). Sifat Fisika dan Mekanika Kayu Ipil (Endertia spectabilis Steenis & de Wit Sidiyasa) Berdasarkan Letak Ketinggian dalam Batang. Jurnal AGRIFOR, 15(1), 35–39. DOI: https://doi.org/10.31293/af.v15i1.1786
