Analisis Kualitas Teh Perkebunan Rakyat di Kabupaten Batang Berdasarkan Indeks Kualitas dan Persepsi Petani
Keywords:
harga teh, kualitas teh, perkebunan, petani, teh rakyatAbstract
Kabupaten Batang merupakan sentra perkebunan teh rakyat terbesar kedua di Jawa Tengah, namun petani hanya menerima harga pucuk Rp1.600–2.000/kg, jauh di bawah harga pokok produksi yang layak. Rendahnya harga ini diduga berkaitan erat dengan kualitas bahan baku yang dihasilkan, namun kondisi aktual kualitas teh rakyat di tingkat tapak belum pernah diukur secara komprehensif dan berbasis persepsi petani. Penelitian ini bertujuan menganalisis kondisi eksisting kualitas teh perkebunan rakyat Kabupaten Batang menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif dengan triangulasi kualitatif. Survei dilakukan terhadap 120 petani di Kecamatan Bawang, Blado, dan Reban menggunakan kuesioner tujuh dimensi kualitas berbasis kualitas Garvin dan Standar Teh Indonesia CERTEAFIED, yang dikonversi menjadi indeks. Wawancara mendalam terhadap 10 informan kunci dilakukan untuk memverifikasi dan memperdalam temuan survei. Hasil menunjukkan grand indeks kualitas sebesar 56,17 (cukup baik), namun temuan ini menyimpan paradoks yakni nilai tersebut lebih ditopang oleh tingginya kemudahan penjualan kepada pengepul, bukan oleh kualitas petikan yang sesungguhnya. Sebesar 86,7% petani tidak menerapkan standar petikan P+2 dan empat dari tujuh dimensi berkategori kurang baik. Mayoritas petani memaknai kualitas sebatas penerimaan pengepul tunggal, sementara pengepul tidak membedakan harga berdasarkan mutu. Hal ini menciptakan perangkap kualitas struktural yang menghambat perbaikan mutu secara berkelanjutan. Kondisi ini berkontribusi langsung pada rendahnya pendapatan petani dan ancaman alih fungsi lahan. Diperlukan sistem insentif harga berbasis kualitas dan penguatan kelembagaan kolektif sebagai solusi struktural.
References
Aaqil, M., Dong, H., Ali, I., & Dong, Y. (2023). Harvesting Standards and Processing Techniques of Black Tea: A Comprehensive Review. Foods, 12(4), 1–20. APTEHINDO. (2022). Data Harga Pucuk Teh Tingkat Petani. Asosiasi Petani Teh Indonesia.
Barik, P., Bedamatta, R., & Vikraman, S. (2025). Smallholders in contract farming value chain: Challenges and opportunities. Journal of International Food and Agribusiness Marketing, 37(4), 604–636.
BPS Kabupaten Batang. (2023). Kabupaten Batang Dalam Angka 2023. Badan Pusat Statistik.
BPS Provinsi Jawa Tengah. (2023). Provinsi Jawa Tengah Dalam Angka 2023.
Badan Pusat Statistik. Business Watch Indonesia. (2021). Kajian Harga Ideal Pucuk Teh di Tingkat Petani. BWI.
Dewan Teh Indonesia. (2024). Standar Teh Indonesia “CERTEAFIED” Versi 1.0 2024.
Dewi, S., & Purwono. (2019). Mutu Petik Teh (Camellia sinensis (L.) O. Kuntze) di Kebun Bedakah, Wonosobo, Jawa Tengah. Buletin Agrohorti, 7(3), 337–342.
Direktorat Jenderal Perkebunan. (2020). Roadmap Teh 2020–2045. Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Doorneweert, B., Ruben, R., & Dijk, G. Van. (2012). Certification in Tea: Business Models for Smallholder Integration. LEI Wageningen UR.
Garvin, D. A. (1984). What Does “Product Quality” Really Mean? MIT Sloan Management Review, 26.
Mose, J. M., Mbeche, R. F., & Ateka, J. (2015). Institutional innovations in smallholder tea cooperatives in Kenya. African Journal of Agricultural Research, 10(22), 2256–2267.
Neilson, J., Pritchard, B., & Spriggs, J. (2006). Institutional arrangements and supply chain governance in the Indian tea sector. Journal of Rural Studies, 22(3), 301–315.
Owuor, P. O., & Obanda, M. (1998). Influence of plucking standards on the quality and yield of black tea. Tropical Science, 38(1), 1–9.
Palat, R., & Palatova, P. (2023). Contract farming and asymmetric power: lessons from the tea sector. Agricultural Systems, 210, 103720.
Perwitasari, H., Mulyo, J. H., & Waluyati, L. R. (2021). Keberlanjutan Kemitraan Petani Plasma Teh dan PT Pagilaran: Bagaimana dan Apa yang Mempengaruhi? Agro Ekonomi, 32(1), 15–30.
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian. (2024). Data Statistik Perkebunan Indonesia. Kementerian Pertanian. Suprihatini, R. (2016). Smallholder tea farmers in Indonesia: supply chain and value chain analysis. Journal of Agribusiness in Developing and Emerging Economies, 6(2), 129–145.
Tanuputri, M. A., & Bai, X. (2023). A Framework to Build A Resilient Supply Chain: A Case Study of Javanese Tea in Indonesia. Sustainable Production and Consumption, 35, 256–270.
