Alternatif Solusi Kemasyarakatan di dalam Dunia Perbenihan sebagai Penyeimbang Industrialisasi Perbenihan dalam Rangka Tercapainya Kedaulatan Benih Nasional: Studi Kasus Perbenihan Berbasis Komunitas dan Pemberdayaan di Kabupaten Ponorogo
Abstract
Revolusi Hijau telah memicu kapitalisme masif dalam industrialisasi pertanian, khususnya sektor perbenihan, yang menciptakan ketergantungan struktural negara berkembang terhadap negara maju melalui Perusahaan Multi Nasional. Akumulasi kapital ini memperlebar kesenjangan ekonomi global, di mana negara kaya semakin sejahtera sementara negara miskin terjerat dalam lingkaran hutang (Farawita, 2018). Dominasi industri benih jagung diperkuat oleh fakta bahwa jagung merupakan komoditas pertanian yang paling intensif diteliti, termasuk telah selesainya pemetaan genom yang memungkinkan hilirisasi penelitian menjadi produk industri. Meskipun peneliti Indonesia telah menghasilkan varietas jagung hibrida unggul yang tidak kalah dengan produk internasional, koordinasi penelitian yang lemah menyebabkan hasil penelitian sulit diterima petani. Kendala utama meliputi keterbatasan kapital, informasi tren pasar, dan kerjasama dengan visi bersama. Perusahaan benih lokal masih terjebak dalam paradigma kapitalis pragmatis yang memperlakukan petani penangkar hanya sebagai kontrak jual-beli, bukan mitra sejati. Penelitian ini mengkaji implementasi skema perbenihan berbasis pemberdayaan di Kabupaten Ponorogo sebagai alternatif menuju kedaulatan benih nasional. Hasil empat siklus produksi menunjukkan: peningkatan pendapatan petani penangkar hingga 221%, implementasi sistem royalty peneliti sebesar 5% dari margin, akumulasi modal bergulir dari Rp. 200 juta menjadi Rp. 490,8 juta, serta dampak positif pada aspek sosial, ekonomi, dan teknologi. Model pemberdayaan ini diharapkan dapat direplikasi secara nasional untuk mewujudkan kedaulatan benih Indonesia yang berkelanjutan dan berkeadilan.