Analisis Usahatani Jambu Mete di Desa Ngadirojo Kidul, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri
Abstract
Luas areal jambu mete di Kecamatan Ngadirojo tercatat hanya 42 ha, setara dengan 1,02% dari total luas areal di Kabupaten Wonogiri sebesar 4.097 ha. Terdapat perbedaan luas area yang signifikan, namun produktivitas Ngadirojo tercatat sedikit lebih tinggi, yaitu 882,78 kg/ha dibandingkan 875,47 kg/ha di tingkat kabupaten. Pengembangan komoditas jambu mete mengalami kendala akibat produktivitas yang belum optimal akibat pohon tua, teknik budidaya tradisional, dan serangan hama penyakit tanaman. Studi ini bertujuan menganalisis usahatani jambu mete di Desa Ngadirojo Kidul, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Wonogiri. Data primer dikumpulkan dari 30 petani pada April-Mei 2025, mencakup karakteristik petani dan input-output produksi. Analisis dilakukan dengan pendekatan pendapatan dan perhitungan Benefit Cost Ratio (B/C). Hasil kajian mengungkapkan bahwa sebagian besar petani belum mengetahui varietas jambu mete yang dibudidayakan, rata-rata luas kepemilikan kebun jambu mete oleh petani tergolong kecil dan produktivitas jambu mete belum optimal. Hasil analisis kelayakan usaha menunjukkan bahwa nilai B/C ratio usahatani jambu mete lebih dari 1 sehingga usahatani layak diusahakan. Meskipun produktivitas jambu mete belum mencapai tingkat optimal dan minimnya perawatan yang dilakukan menekan biaya produksi secara signifikan. Kondisi ini memungkinkan hasil penjualan tetap memberikan keuntungan, sehingga jambu mete masih menjadi salah satu komoditas yang dibudidayakan petani sebagai penopang pendapatan.
Kata Kunci: jambu mete, produktivitas, benefit cost ratio, pendapatan